selamat bergabung

selamat datang

Kamis, 03 Juni 2010

cara penangkaran burung love bird

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Penanya
PERAWATAN
Di alam liar, jenis makanan yang dikonsumsi Lovebird antara lain adalah sayuran, buah2an, biji2an dan kacang2an dalam jumlah yang sangat banyak. Untuk Lovebird yang kita pelihara, sebaiknya jumlah makanan yang banyak mengandung lemak dibatasi. Hal ini karena keterbatasan gerak mereka di dalam kandang dibanding di alam liar. Jika terlalu gemuk, maka burung cenderung malas untuk bergerak dan bunyi.

Berikan sayuran segar (al: brokoli, toge, bayam, sawi, kangkung, jagung) setiap hari secara bergantian, buah2an (al: apel, pisang, papaya) 2 -3 kali seminggu. Bij-bijian harus diberikan dalam jumlah yang terbatas (kecuali Lovebird akan diternak). Seminggu sekali boleh diberikan minuman susu cair. Jangan memberi makanan seperti alpukat, cokelat dan kopi karena bisa berakibat fatal. Jika anda memberikan apel, pastikan bahwa biji buah apel sudah terbuang karena itu bisa menjadi racun bagi Lovebird.

Selain itu, jangan lupa untuk meyediakan pasir grit atau totok cumi didalam kandang. Grit ini selain berfungsi untuk membantu pencernaan juga bagai sarana dalam proses pembentukan cangkang telur. (lihat artikel om Kiansing mengenai fungsi Grit).

Ukuran kandang untuk Lovebird sangat variatif. Ada yg berbentuk bulat, kotak bahkan segi enam. Gunakanlah ukuran kandang yang agak besar supaya Lovebird lebih bebas untuk bergerak. Konstruksi kandang harus kuat dan terbuat dari kawat besi. Lovebird termasuk burung yang suka mandi. Oleh karena itu usahakan untuk memberikan tempat mandi tersendiri, selain tempat minum. Penggantian air minum harus dilakukan setiap hari untuk menjaga kesehatannya. Seminggu sekali mandikanlah Lovebird dengan cairan anti septic atau anti kutu – dengan cara disemprot dari atas - supaya bulunya tetap terpelihara. Untuk penjemuran, usahakan setiap hari Lovebrid dijemur dengan durasi sekitar 2 – 3 jam.

Dengan perawatan yang baik, Lovebird bisa hidup 10 hingga 20 tahun.


BETERNAK LOVEBIRD
Sebelum memulai beternak Lovebird, kita harus bisa membedakan dulu antara Lovebird jantan dengan Lovebird betina. Secara fisik dan warna, burung tersebut susah untuk diketahui jenis kelaminnya. Cara yang paling gampang adalah dengan meraba kedua capit udang yang terletak dibawah duburnya. Jika keras, rapat dan lancip, biasanya jantan. Sedangkan burung betina capit udangnya lembek, lebar dan tumpul. Ciri lain adalah, Lovebird betina jika sudah birahi akan mengumpulkan bahan sarang dan diselipkan diantara kedua sayapnya sebelum dibawa kedalam kotak sarang.

Lovebird bisa diternak setelah memasuki usia diatas 7 bulan. Pilihlah Lovebird yang sehat dan tidak cacat sebagai calon indukan dan berusia relative masih muda karena Lovebird yang sudah berumur diatas 3 tahun biasanya sudah tidak terlalu produktif. Untuk mendapatkan kriteria seperti diatas, sebaiknya kita langsung membeli dari peternak yang sudah kita kenal.

Untuk memacu birahi, selain kwaci, tambahkana makanan extra berupa toge, jagung muda dan sawi. Ketiga jenis sayuran ini terbukti berguna untuk mendongkrak birahi Lovebird.


Walaupun Lovebird bisa diternak dengan cara diumbar dalam kandang beurukuran besar dengan jumlah lebih dari 1 pasang, akan lebih baik jika beternak Lovebird secara individual. Untuk 1 pasang Lovebird, bisa digunakan kandang dengan ukuran sekitar 80cm x 40cm x 40cm. Satu Kandang diisi satu pasang. Ini dilakukan supaya garis keturunan gampang dilacak sehingga suatu saat memudahkan kita untuk melakukan experiment dalam menghasilkan varian warna yang berbeda. Sediakan kotak sarang atau glodok untuk bertelor dan mengeram. Contoh ukuran glodok XLXT = 15cm x 20cm x 25cm. Glodok terbuat dari papan dengan ketebalan sekitar 2cm.


Tempat sarang atau glodok untuk Lovebird umumnya terbuat dari kotak kayu.
Bahan sarang bisa menggunakan serbuk kayu, kulit jagung yang sudah dikeringkan dan lain sebagainya.

Umumnya Lovebird bertelur antara 4 – 6 butir dan menetas setelah dierami sekitar 21 hingga 23 hari. Kedua indukan, baik jantan maupun betina saling bergantian menyuapi anaknya. Pada saat berumur sekitar 6 – 8 minggu, anak burung mulai keluar dari kotak sarang. Setelah anak burung bisa makan sendiri, segera pindahkan mereka ke sangkar lain sehingga indukannya bisa kembali melakukan siklus reproduksi.

Adakalanya indukan Lovebird tidak mau mengasuh anakannya. Jika kita menemukan kasus seperti ini, tidak ada cara lain kecuali harus diangkat dan disuapi sendiri. Siapkan kotak berukuran kira-kira 40x40x40cm yang didalamnya terdapat lampu bohlam 5 watt yang berfungsi sebagai penghangat. Anak Lovebird harus disuapi setiap 2 jam sekali. Makanan yang paling sesuai pada masa tersebut adalah bubur susu untuk bayi. Campurkan bubur susu dengan air matang (hangat-hangat kuku), lalu gunakan sendok untuk menyuapi anak burung. Tingkat kekentalan makanan tersebut harus disesuaikan dengan usia anak burung. Semakin bertambah usianya, semakin kental bubur susu yang diberikan. Setelah berumur 3 – 4 minggu, kita sudah boleh mulai memperkenalkan jenis makanan lain seperti sayuran, buah-buahan dan millet.

Pemasangan ring bisa dilakukan pada saat anakan berumur tidak lebih dari 10 hari. Berikut adalah ilustrasi cara pemasangan ring:

PERMASALAHAN DALAM BETERNAK LOVEBIRD

Tidak Mau jodoh
Sering kita merasa kesal karena indukan yang ingin kita jodohkan ternyata tidak mau bersatu. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa hal, al: keduanya berjenis kelamin sama, belum memasuki masa birahi, situasi atau lingkungan yang kurang mendukung.

Telur Tidak Menetas
Telur tidak meneteas bisa disebabkan oleh beberpa hal al: Indukan yang mandul, kurang nutirisi, telur tidak dierami indukan, infeksi bakteri, dan lain-lain. Sering dijumpai dalam satu tetasan, ada 1 atau 2 telur yang tidak menetas. Ini adalah hal yang wajar dan tidak perlu di khawatirkan. Biasanya telur yang tidak menetas itu adalah telur yang terakhir. Menurut literature yang saya baca, bahkan di alam sekalipun, tidak semua telur bisa menetas.

Cacat Kaki.
Sering kita jumpai anak Lovebird yang kakinya tidak bisa berdiri dan mencengkeram dengan sempurna serta cenderung miring ke samping. Hal ini disebabkan karena bahan sarang yang ada didalam sangkar kurang mencukupi sehingga Lovebird tidak mempunyai dasar berpijak yang tidak licin. Kebanyakan kasus ini dijumpai pada glodok yang beralaskan papn triplek. Hindarilah menggunakan bahan ini dan gunakan papan yang belum diserut sebagai bahan dasar glodok.

PEMASTERAN
Betulkah Lovebird bisa dimaster? Saya bisa mengatakan bisa, berdasarkan pengalaman saya. Lovebird termasuk burung yang cerdas dan gampang menirukan suara burung jenis lain. Selama ini Lovebird lebih banyak digunakan sebagai master terutama Lovebird yang memiliki trecetan kasar dan panjang-panjang. Untuk mencari Lovebird seperti ini bukanlah hal yang mudah. Jika ada, tentu harganya sudah melambung tinggi. Untuk menyiasati hal tersebut, kita bisa melakukan pemasteran semenjak Lovebird berusia kurang dari 1 bulan. Walaupun trecetan suara Lovebird dalam membawakan lagu lebih banyak ditentukan dari factor genetic, upaya berikut masih bisa dilakukan untuk mendongkrak performanya. Master yang cocok untuk Lovebird adalah Kenari, Blackthroat dan Sanger karena ketiga jenis burung ini diyakini memiliki nada suara yang paling mendekati Lovebird. Dengan ketiga jenis burung ini diharapkan Lovebird akan membawakan lagunya dengan durasi yang panjang dan speed yang rapat.
2 tahun lalu
KANAN YANG SESUAI UNTUK BURUNG LOVE BIRD
Bijian Mix. Kita dapat memberikan biji-bijian yang telah dicampur yang banyak dijual dipasaran sebagai pakan utamanya.
Sayuran segar. Burung Love Bird sangat menggemari sayuran segar seperti: Kangkung, Sawi Putih, Jagung Muda dan sayuran lainnya.
Asinan. Untuk mencukupi kebutuhan kalsium, burung ini membutuhkan asupan kalsium tambahan. Dapat diberikan tulang sotong untuk melengkapi kebutuhan kalsium yang dibutuhkan.
Extra Fooding. Biji bunga Matahari, biji Fumayin, biji Kedelai, biji Kacang Merah dan biji Kacang Hijau sangat digemari oleh burung ini untuk melengkapi kebutuhan vitamin, protein dan menaikkan suhu tubuh serta meningkatkan sistem metabolisme didalam tubuhnya.
 
PERAWATAN DAN STELAN HARIAN BURUNG LOVE BIRD
 
Perawatan harian untuk burung Love Bird relatif sama dengan burung berkicau jenis lainnya, kunci keberhasilan perawatan harian yaitu rutin dan konsisten.
 
Berikut ini Pola Perawatan Harian dan Stelan Harian untuk burung Love Bird:
1.Jam 07.00 burung diangin-anginkan di teras. Jam 07.30 burung dimandikan (karamba mandi atau semprot, tergantung pada kebiasaan masing-masing burung)
2.Bersihkan kandang harian. Ganti atau tambahkan Pakan dan Air Minum.
3.Berikan Sayuran segar atau Buah.
4.Penjemuran dapat dilakukan selama 30-60 menit/hari mulai pukul 08.00-11.00. Selama penjemuran, sebaiknya burung dikelompokkan agar dapat melihat burung sejenis.
5.Setelah dijemur, angin-anginkan kembali burung tersebut diteras selama 10 menit, lalu sangkar dikerodong.
6.Siang hari sampai sore (jam 10.00-15.00) burung dapat di Master dengan suara Master atau burung Love Bird lain.
7.Jam 15.30 burung diangin-anginkan kembali diteras, boleh dimandikan bila perlu.
8.Kontrol Pakan, Air Minum, Sayuran segar.
9.Jam 18.00 burung kembali dikerodong dan di perdengarkan suara Master selama masa istirahat sampai pagi harinya.
PENTING
Variasi pemberian sayuran segar dan Extra Fooding kunci keberhasilan dalam perawatan burung Love Bird.
Asinan harus selalu tersedia didalam sangkar.
Pengumbaran di kandang umbaran dapat dilakukan 4 jam perhari selama 4 hari dalam seminggu.
Berikan Multivitamin yang dicampur pada air minum seminggu sekali saja.
 
PENANGANAN APABILA BURUNG LOVE BIRD OVER BIRAHI
Frekuensi mandi dibuat lebih sering, misalnya pagi-siang dan sore
Lamanya penjemuran dikurangi menjadi 15 menit/hari saja
Waktu pengumbaran dibuat lebih sering dan lebih lama
 
PENANGANAN APABILA BURUNG LOVE BIRD KONDISINYA DROP
Perbanyak pemberian Sayuran segar dan Extra Fooding
Mandi dibuat 2 hari sekali saja
Lamanya penjemuran ditambah menjadi 60 menit/hari
 
PERAWATAN DAN STELAN BURUNG LOVE BIRD UNTUK LOMBA
 
Perawatan lomba sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perawatan harian. Tujuan perawatan pada tahap ini yaitu mempersiapkan burung agar mempunyai tingkat birahi yang diinginkan dan memiliki stamina yang stabil. Kunci keberhasilan perawatan lomba yaitu mengenal baik karakter dasar masing-masing burung.
 
Berikut ini Pola Perawatan dan Stelan Lomba untuk burung Love Bird:
1.H-3 sebelum lomba, tambahkan bijian Extra Fooding pada campuran pakan bijiannya.
2.H-2 sebelum lomba, burung sebaiknya dijemur maksimal 20 menit saja.
3.1 Jam sebelum di gantang lomba, berikan Kangkung segar.
 
PENTING
Sebaiknya, mulai H-6 burung diisolasi. Jangan sampai melihat dan mendengar suara burung Love Bird lain.
 
PERAWATAN DAN STELAN BURUNG LOVE BIRD PASCA LOMBA
 
Perawatan pasca lomba sebenarnya berfungsi memulihkan stamina dan mengembalikan kondisi fisik burung.
 
Berikut ini Pola Perawatan dan Stelan pasca Lomba untuk burung Love Bird:
1.Perawatan dan Stelan pakan dikembalikan ke Stelan Harian.
2.Berikan Multivitamin pada air minum pada H+1 setelah Lomba.
3.Sampai H+3 setelah Lomba, penjemuran maksimal 30 menit saja.
 
PERAWATAN DAN STELAN BURUNG LOVE BIRD MABUNG
 
Mabung (Moulting) atau rontok bulu merupakan siklus alamiah pada keluarga burung. Perawatan burung pada masa mabung adalah menjadi hal yang sangat penting, karena apabila perawatan yang salah pada masa ini akan membuat burung menjadi rusak. Pada masa mabung ini, metabolisme tubuh burung meningkat hampir 40% dari kondisi normal. Oleh karena itu, burung butuh asupan nutrisi yang berkualitas baik dengan porsi lebih besar dari kondisi normal. Hindari mempertemukan burung dengan burung sejenis, karena akan membuat proses mabung menjadi terganggu. Dampak dari ini adalah ketidak seimbangan hormon pada tubuh burung. Proses mabung juga berhubungan dengan hormon reproduksi.
 
Berikut ini Pola Perawatan masa mabung: 
1.Tempatkan burung di tempat yang sepi, jauh dari lalu lintas manusia. Sebaiknya burung lebih banyak dalam kondisi dikerodong.
2.Mandi cukup 1x seminggu saja dan jemur maksimal 30 menit/hari.
3.Pemberian porsi pakan tambahan diberikan lebih banyak karena sangat diperlukan  untuk pembentukan sel-sel baru dan untuk pertumbuhan bulu baru. Misalnya: Tambahkan biji-bijian bunga Matahari, Biji Kacang Hijau, biji Fumayin dan variasikan pemberian sayuran segar dan buah.
4.Berikan Multivitamin yang berkualitas yang dicampur di air minum 2x seminggu.
5.Lakukan pemasteran. Masa mabung membuat burung lebih banyak pada kondisi diam dan mendengar. Inilah saat yang tepat untuk mengisi variasi suara sesuai dengan yang kita inginkan. Lakukan pemasteran dengan tepat, sesuaikan karakter dan tipe suara burung dengan suara burung master.
 
TELAN DAN POLA PERAWATAN BURUNG BERKICAU




 
Berkicau dan melantunkan lagu yang merdu adalah salah satu cara bagi burung untuk menarik lawan jenis dan memberikan informasi kepada burung-burung lain tentang batas-batas daerah teritorialnya.
 
Kita dapat membagi kicauan burung menjadi 3 bagian, yaitu:
 
1. Song (kicauan panjang dengan alunan nada yang merdu untuk memamerkan kemampuannya dan menarik perhatian lawan jenis).
 
2. Call (kicauan feedback pendek untuk memanggil pasangan lawan jenis).
 
3. Alert (kicauan dan bunyi untuk memperingatkan burung sejenis dan burung pasangannya apabila ada bahaya yang mengancam).
 
Burung menjadi rajin berkicau disebabkan oleh rangsangan birahi yang dipengaruhi oleh hormon testosteron, hormon estrogen dan hormon progesterone yang ada di dalam tubuh burung tersebut. Hormon ini terbentuk dengan cepat akibat rangsangan luar (jemur: sinar infra merah) dan tingginya kadar protein makanan yang di konsumsi.
 





 
Dalam dunia hobi burung berkicau, kita sangat sering mendengar istilah "stelan". Apa sebenarnya arti istilah "Stelan" pada burung berkicau..?? Stelan adalah suatu pola yang diterapkan secara konsisten pada burung untuk maksud dan kondisi tertentu.
 
Contohnya:
- Stelan EF adalah pola pemberian Extra Fooding kepada burung agar birahi burung berada pada level (tingkat ) yang diinginkan.
- Stelan Perawatan Harian adalah pola perawatan burung sehari-hari, meliputi kebiasaan mandi dan jemur serta kondisi burung supaya kesehatan burung dan psikologis burung tetap prima.
 
Supaya burung rajin berkicau, kita harus mengatur dengan tepat level hormon testosteron, hormon estrogen dan hormon progesterone yang ada di dalam darah burung. Kenapa ini menjadi hal yang sangat penting..?? Karena hormon-hormon tersebut bertanggung jawab pada birahi apa tidaknya burung.
 
Burung menjadi lesu (drop) tidak bergairah apabila tidak birahi, burung akan rajin berkicau apabila tingkat birahinya tepat dan burung menjadi terlalu agresif apabila terlalu birahi (over birahi).
 
Kesimpulannya adalah:
Salah satu kunci utama dalam pengendalian birahi burung terletak pada kadar protein makanan yang kita berikan. Semakin tinggi tingkat protein makanan yang kita berikan, maka akan semakin banyak juga hormon-hormon vital diatas terbentuk di dalam darah burung, ini akan mempengaruhi penampilannya pada saat berkicau.
 




 
Nah.., apa kaitannya dengan burung berkicau yang kita pelihara untuk burung lomba..?? Jawabannya sudah pasti kita harus meng-adjust stelan Extra Fooding (EF) pada tingkat atau level yang benar-benar tepat. Burung tetap harus birahi, tetapi tidaklah terlalu birahi (over birahi).
 
Contohnya apabila burung terlalu birahi:
- Burung Anis Merah hanya loncat-loncat naik turun tangkringan (agresif) dan tidak mau bunyi tenang apabila terlalu birahi.
- Burung Murai Batu mengembangkan sayap (ngelowo/ngebatman) sewaktu di adu dengan burung Murai Batu lain apabila terlalu birahi.
- Burung Kacer sering mbagong (mbalon/mbedesi/kuda laut) sewaktu di adu dengan burung kacer lain apabila terlalu birahi.
- Dan lain-lain...
 
Bagaimana cara paling mudah mengatur Stelan EF dan Stelan Perawatan untuk burung kesayangan kita...??
Inilah bagian terpenting dari tulisan ini;
 

 
Kita analogikan burung kesayangan kita ibarat sebuah "karburator" di sepeda motor. Mesin motor dapat berjalan optimal apabila karburator bekerja dengan baik. Karburator dapat bekerja dengan baik juga apabila ada 3 unsur penting, yaitu pasokan bahan bakar (bensin), pengapian (dari coil-busi) dan udara (pada ruang bakar).
 
Kembali ke konteks burung berkicau; Extra Fooding kita ibaratkan adalah pengapian di ruang bakar, Mandi dan Jemur kita ibaratkan udara pada karburator dan pakan utama (Voer/Buah/Bijian/Dll) kita ibaratkan adalah bahan bakar yang mensuplai karburator.
 
Sebelum melakukan seting adjust stelan pada burung, kita di tuntut untuk mengenal lebih dekat karakter (kepribadian) burung yang kita miliki. Karakter setiap burung tidak ada yang sama persis. Disinilah kita dituntut untuk berani trial and error dalam mencari setingan yang benar-benar tepat untuk burung kesayangan kita. Jangan takut  melakukan seting stelan, burung bukanlah benda elektronik yang rusak apabila kita salah dalam melakukan adjust stelan.
 


 
Burung adalah salah satu makhluk hidup yang butuh konsistensi. Agar burung tetap tampil prima seperti yang kita inginkan, kita dituntut harus konsisten dalam meng-aplikasikan stelan Extra Fooding (EF) dan stelan perawatan burung dengan cara berikut:
 
1. Mandikan burung rutin tiap pagi.
 
2. Jemur burung 15 menit sampai 60 menit (bertahap) setiap pagi, karena sinar infra merah pada penjemuran di pagi hari berfungsi mengoptimalkan terbentuknya hormon-hormon vital di tubuh burung.
 
3. Berikan makanan (Voer/Buah/Bijian)/Dll) yang berkualitas baik dengan porsi dan takaran yang tepat.
 
4. Berikan Extra Fooding dengan tahapan-tahapan yang benar dan amati setiap perubahan tingkah laku burung setelah variabel Extra Fooding dirubah.
 
5. Buat pendekatan psikologis kepada burung, untuk menanamkan rasa aman dan rasa kepercayaan burung yang tinggi kepada kita.
 
 


 


 
BURUNG CUCAK HIJAU / BURUNG CUCAK IJO / MURAI DAUN



TIPS PANDUAN

Pemilihan Bahan, Perawatan Harian, Perawatan Pra Lomba, Perawatan Pasca Lomba dan Perawatan Mabung untuk Burung Cucak Hijau / Burung Cucak Ijo

Berdasarkan Riset SMART MASTERING - WWW.SMARTMASTERING.COM

Burung Cucak Hijau / Burung Cucak Ijo adalah salah satu burung yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Bintangnya semakin gemilang, terbukti di lomba-lomba burung berkicau di beberapa daerah, kelas yang dibuka untuk burung ini selalu penuh. Bahkan sudah sangat banyak transfer gacoan Cucak Hijau dengan nilai sangat fantastis. 
 
 
KARAKTER DASAR BURUNG CUCAK HIJAU
1.Semi fighter. Burung ini bukanlah burung petarung murni, daya tarung yang ada pada burung ini cenderung akibat tingkat birahi pada level tertentu yang akan membuat burung ini menjaga daerah teritorialnya.
2.Takut gelap. Burung Cucak Hijau tidak suka gelap dan gampang panik apabila berada pada lingkungan atau suasana yang gelap. Hindari menempatkan burung ini pada tempat yang gelap, apalagi membawanya pada malam hari. Karena akan mengakibatkan burung ini akan panik, nabrak ruji kurungan, bulunya rontok dan dapat menjadi stress.
3.Sangat cerdas, gampang menirukan tapi sangat gampang lupa. Dalam kondisi normal, burung ini dapat merekam suara isian yang ada disekitarnya dengan sangat cepat. Sangat mudah di master, tetapi apabila dalam kurun waktu tertentu tidak mendengar suara-suara master yang sudah ada, maka dengan gampang hilang dari memorinya.
4.Mudah jinak. Karena kemampuan beradaptasinya yang tinggi, maka burung ini mudah jinak kepada manusia.
 
PEMILIHAN BAHAN BURUNG CUCAK HIJAU YANG BAIK
(CIRI-CIRI BURUNG CUCAK HIJAU YANG BAIK DARI KATURANGGAN)
 
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan atau bakalan pada burung Cucak Hijau.
Berkelamin jantan, ciri-ciri burung Cucak Hijau kelamin jantan dapat dilihat dari  postur tubuh yang panjang serasi, ekor lebih panjang, tulang belakang dan supit kecil  rapat, warna bulu lebih tegas, paruh berwarna gelap, warna bulu di bagian bawah leher berwarna hitam dan membentuk topeng pada wajahnya, mata besar melotot, bentuk kepala lebih besar dan bergerak lincah.
Bentuk paruh, sebaiknya pilih bentuk paruh yang berpangkal lebar, tebal, besar dan panjang. Paruh bagian bawah harus lurus. Jangan memilih bahan yang memiliki paruh bengkok. Posisi lubang hidung pilih sedekat mungkin dengan posisi mata.
Postur badan, pilihlah bahan yang berpostur sedang dengan panjang leher, badan dan ekor serta kaki yang serasi. Jangan memilih bahan yang berleher dan berbadan pendek.
Sayap mengepit rapat dan kaki mencengkram kuat, ini menandakan bahan tersebut  sehat. Warna kaki tidak berpengaruh terhadap mental burung.
Lincah dan bernafsu makan besar. Ini merupakan ciri-ciri bahan yang bermental baik.
Rajin bunyi, ini menandakan burung tersebut memiliki prospek yang cerah.
Leher panjang padat berisi. Menandakan burung ini akan mengeluarkan power suara secara maksimal.  
 
MAKANAN YANG SESUAI UNTUK BURUNG CUCAK HIJAU
Voer (sebaiknya pilih yang berkadar protein sedang yaitu: 12%-18%, belum tentu Voer yang berharga mahal akan cocok dengan sistem metabolisme setiap burung Cucak Hijau. Voer diberikan sebagai pelengkap kebutuhan nutrisinya. Selalu ganti dengan Voer yang baru setiap dua hari sekali.
Buah Segar, burung ini sangat menyukai buah Pepaya, Pisang Kepok Putih, Apel, Pir, Tomat dan beberapa buah lainnya. Sebaiknya perbanyak pemberian buah Pepaya, karena buah Pepaya mengandung vitamin C yang tinggi sehingga membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Disamping itu, buah Pepaya sangat mudah dicerna dan sangat cocok dengan sistem metabolisme rata-rata burung pemakan buah.
EF (Extra Fooding), pakan tambahan yang sangat baik yaitu: Jangkrik, Orong-orong, Kroto, Ulat Hongkong, Ulat Bambu, Kelabang, Belalang dan lainnya. Pemberian EF harus selalu disesuaikan dengan karakter pada masing-masing burung dan juga harus mengetahui dengan pasti dampak klausal dari pemberiannya EF tersebut.
 
PERAWATAN DAN STELAN HARIAN BURUNG CUCAK HIJAU
 
Perawatan harian untuk burung Cucak Hijau relatif sama dengan burung berkicau jenis lainnya, kunci keberhasilan perawatan harian yaitu rutin dan konsisten.
 
Berikut ini Pola Perawatan Harian dan Stelan Harian untuk burung Cucak Hijau:
1.Jam 07.00 burung diangin-anginkan di teras. Jam 07.30 burung dimandikan (karamba mandi atau semprot, tergantung pada kebiasaan masing-masing burung).
2.Bersihkan kandang harian. Ganti atau tambahkan Voer, Air Minum dan buah segar.
3.Berikan Jangkrik 3 ekor pada cepuk EF. Jangan pernah memberikan Jangkrik secara langsung pada burung.
4.Penjemuran dapat dilakukan selama 1-2 jam/hari mulai pukul 08.00-11.00. Selama penjemuran, sebaiknya burung tidak melihat burung sejenis.
5.Setelah dijemur, angin-anginkan kembali burung tersebut diteras selama 10 menit, lalu sangkar dikerodong.
6.Siang hari sampai sore (jam 10.00-15.00) burung dapat di Master dengan suara Master atau burung-burung Master.
7.Jam 15.30 burung diangin-anginkan kembali diteras, boleh dimandikan bila perlu.
8.Berikan Jangkrik 2 ekor pada cepuk EF.
9.Jam 18.00 burung kembali dikerodong dan di perdengarkan suara Master selama masa istirahat sampai pagi harinya.
 
PENTING
Kroto segar diberikan 1 sendok teh maksimal 2x seminggu. Contoh setiap hari Senin pagi dan hari Kamis pagi.
Buah Segar diberikan rutin setiap hari, dengan format: Hari Senin sampai hari Kamis berikan buah Pepaya, hari Jum'at dan hari Sabtu berikan Apel atau Pisang atau buah lainnya.
Pengumbaran di kandang umbaran dapat dilakukan 4 jam perhari selama 4 hari dalam seminggu.
Berikan Multivitamin yang dicampur pada air minum seminggu sekali saja.
Berikan buah pisang yang yang telah diolesi Madu setiap hari Sabtu.
 
PENANGANAN APABILA BURUNG CUCAK HIJAU OVER BIRAHI
Pangkas porsi Jangkrik menjadi 1 pagi dan 1 sore
Bisa diberikan 2 ekor Ulat Bambu dalam 3 hari berturut-turut
Frekuensi mandi dibuat lebih sering, misalnya pagi-siang dan sore
Lamanya penjemuran dikurangi menjadi 30 menit/hari saja
 
PENANGANAN APABILA BURUNG CUCAK HIJAU KONDISINYA DROP
Tingkatkan porsi pemberian Jangkrik menjadi 5 pagi dan 5 sore
Tingkatkan porsi pemberian Kroto menjadi 3x seminggu
Mandi dibuat 2 hari sekali saja
Burung segera diisolasi, jangan melihat dan mendengar burung Cucak Hijau lain dahulu
Lamanya penjemuran ditambah menjadi 2-3 jam/hari
 
PERAWATAN DAN STELAN BURUNG CUCAK HIJAU UNTUK LOMBA
 
Perawatan lomba sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perawatan harian. Tujuan perawatan pada tahap ini yaitu mempersiapkan burung agar mempunyai tingkat birahi yang diinginkan dan memiliki stamina yang stabil. Kunci keberhasilan perawatan lomba yaitu mengenal baik karakter dasar masing-masing burung.
 
Berikut ini Pola Perawatan dan Stelan Lomba untuk burung Cucak Hijau:
1.H-3 sebelum lomba, Jangkrik bisa dinaikkan menjadi 10 ekor pagi dan 6 ekor sore.
2.H-2 sebelum lomba, burung sebaiknya dijemur maksimal 30 menit saja.
3.1 Jam sebelum digantang lomba, berikan Jangkrik 3 ekor dan Ulat Hongkong 10-20 ekor.
4.Apabila burung akan turun lomba kembali, berikan Jangkrik 1 ekor lagi.
 
PENTING
Jangan memandikan burung pada saat di lapangan, karena dapat membuat birahi burung tersebut menjadi sangat tidak stabil.
Berikan kesempatan pada burung untuk beradaptasi sebentar pada suasana lapangan, agar burung tidak kaget.
 
PERAWATAN DAN STELAN BURUNG CUCAK HIJAU PASCA LOMBA
 
Perawatan pasca lomba sebenarnya berfungsi memulihkan stamina dan mengembalikan kondisi fisik burung.
 
Berikut ini Pola Perawatan dan Stelan pasca Lomba untuk burung Cucak Hijau:
1.Porsi EF dikembalikan ke Stelan Harian.
2.Berikan Multivitamin pada air minum pada H+1 setelah Lomba.
3.Sampai H+3 setelah Lomba, penjemuran maksimal 30 menit saja.
 
PERAWATAN DAN STELAN BURUNG CUCAK HIJAU MABUNG
 
Mabung (Moulting) atau rontok bulu merupakan siklus alamiah pada keluarga burung. Perawatan burung pada masa mabung adalah menjadi hal yang sangat penting, karena apabila perawatan yang salah pada masa ini akan membuat burung menjadi rusak. Pada masa mabung ini, metabolisme tubuh burung meningkat hampir 40% dari kondisi normal. Oleh karena itu, burung butuh asupan nutrisi yang berkualitas baik dengan porsi lebih besar dari kondisi normal. Hindari mempertemukan burung dengan burung sejenis, karena akan membuat proses mabung menjadi terganggu. Dampak dari ini adalah ketidak seimbangan hormon pada tubuh burung. Proses mabung juga berhubungan dengan hormon reproduksi.
 
Berikut ini Pola Perawatan masa mabung: 
1.Tempatkan burung di tempat yang sepi, jauh dari lalu lintas manusia. Sebaiknya burung lebih banyak dalam kondisi dikerodong.
2.Mandi cukup 1x seminggu saja dan jemur maksimal 30 menit/hari.
3.Pemberian porsi EF diberikan lebih banyak karena sangat diperlukan  untuk pembentukan sel-sel baru dan untuk pertumbuhan bulu baru. Misalnya: Stelan Jangkrik dibuat 5 ekor pagi dan 5 ekor sore, Kroto 1 sendok makan setiap pagi dan Ulat Hongkong 3 ekor setiap pagi.
4.Berikan Multivitamin yang berkualitas yang dicampur di air minum 2x seminggu.
5.Perbanyak pemberian buah pepaya, karena buah pepaya sangat mudah dicerna sehingga melancarkan proses metabolisme tubuh burung. Disamping itu buah Pepaya banyak mengandung banyak vitamin C yang akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh burung.
6.Lakukan pemasteran. Masa mabung membuat burung lebih banyak pada kondisi diam dan mendengar. Inilah saat yang tepat untuk mengisi variasi suara sesuai dengan yang kita inginkan. Lakukan pemasteran dengan tepat, sesuaikan karakter dan tipe suara burung dengan suara burung master.









PENDEKATAN KONSELING BEHAVIORAL (Presentase : FAKHRIL ISLAM, S.Pd-Pascasarjana Universitas Negeri Padang )
Feb 17, '09 11:56 AM
for everyone
A.    PENDAHULUAN
Sejarah konseling behavioral bermula dari Ivan Sechenov (1829-1905), seorang ahli fisiologi Rusia, yang dalam hipotetiknya (1963) memandang fungsi-fungsi otak sebagai pancaran reflek yang terdiri atas tiga komponen yaitu input sensorik, proses, dan efferent outflow. Sechenov berkeyakinan bahwa tingkah laku terdiri atas respon-respon terhadap stimulasi-stimulasi dengan interaksi-interaksi dari ransangan dan hambatan yang beroperasi pada bagian sentral dari pancaran reflek.
Konseling behavioral merupakan konseling yang mengetengahkan proses belajar pada proses konselingnya. Teori-teori tentang hukun-hukum belajar pun menjadi corak khas dalam memodifikasi tingkah laku klien. Sebagai proses belajar, pengertian belajar diartikan sebagai “suatu perubahan dalam perbuatan atau dalam melakukan sesuatu yang berhubungan dengan beberapa pengalaman”. Bahaviorisme memandang bahwa semua respon yang mendatangkan akibat adalah penanda terjadinya proses belajar.
Selain itu, penegasan yang terpenting dari behavioral terletak pada perhatian mereka yang hanya tertuju pada sesuatu yang dapat diamati secara ilmiah, yang memungkinkan terjadinya pengukuran. Ukuran yang dimaksud terletak pada  suatu respon (perilaku) dan akibat yang mengikuti respon.
Karena itu, dalam realitas behaviorisme, tidak ada dan tidak akan pernah ada kebebasan memilih, yang ada hanya hokum perangsang dan jawaban terhadap perangsang (The law of stimulus and respon). Jikapun ada kebebasan memilih, itu hanya karena individu sudah dipengaruhi atau dikondisikan untuk mempercayai itu.
B.     TEORI PERKEMBANGAN TINGKAH LAKU
1.      Hakikat Manusia
Aliran behavioris memandang manusia sebagai mahluk yang reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor luar. Perubahan yang terjadi pada diri manusia merupakan indikasi adanya proses belajar.  Behaviorisme mempunyai asumsi dasar mengenai perkembangan kepribadian sebagai tingkah laku yang diperoleh dari belajar sebagai reaksi atas interaksi terhadap lingkungan yang didalamnya berlangsung hukum-hukum belajar(pembiasaan klasik, pembiasaan operant, dan peniruan).
Hakikat manusia berdasarkan pandangan ini merupakan mahluk heriditas yang netral (tidak baik dan tidak jahat) yang membawa seperangkat kebutuhan yang akan diakomodasikannya dalam lingkungan dimana mereka berada. Karenanya, keberadaan manusia akan sangat bergantung pada situasi lingkungan (internal dan eksternal) sebagai pembentuk kepribadian. Interaksi terhadap lingkungan sebagai suatu proses pembelajaran dan kemasakan juga merupakan intervensi yang menempatkan manusia sebagai produsen sekaligus sebagai hasil lingkungan.
2.      Perkembangan Tingkah Laku yang Tepat
Perbedaan antara tingkah laku yang tepat atau tidak tepat sebenarnya tidak hanya terdapat pada bagaimana tingkah laku itu dipelajari secara tepat, melainkan juga pada tingkat kesesuaiannya terhadap tuntutan lingkungan yang ditempati individu. Tingkat kesesuaian ini selanjutnya akan menentukan apakah individu akan menerima kepuasan dengan tingkah laku tersebut atau sebaliknya akan menimbulkan konflik, karena ketidaksesuaiannya.
Interaksi individu dengan lingkungan ditentukan bentuknya  oleh tujuan-tujuan baik yang berasal dari individu maupun terkadang dipaksakan oleh lingkungan. Tujuan akan menjadi pendoronga atau motivasi manusia dalam bertingkah laku. Adapun motivasi bertingkah laku dikembangkan melalui pengalaman, sehingga dapat dibangun seperangkat motiv dan kebutuhan yang terdiferensiasi secara teratur.
Mengenai tingkah laku yang ditentukan oleh tujuan, behaviorisme memandang bahwa tujuan merupakan kebutuhan yang ingin dicapai melalui proses belajar. Tujuan yang semula diasosiasikan dengan penguatan fisiologik, akan mencapai kemasakan seiring dengan interaksi manusia terhadap lingkungannya. Jika kebutuhan yang satu telah dicapai, maka kebutuhan lain akan muncul sebagai pengiring bagi kebutuhan selanjutnya, sekaligus merupakan hasil asosiasi dari tujuan sebelumnya. Melalui proses yang sedemikian ini, akan dipahami bahwa kebutuhan yang dipelajari itu berkembang dan membentuk diferensiasi dan tergeneralisasi dari yang spesifik (primer) sampai pada kebutuhan yang umum (sekunder).
Ruther (Hansen, 1977, hal 171) mengemukan tiga sifat umum dari kebutuhan yang dipelajari manusia yaitu :
a.    Need Potential ; yaitu kekuatan yang dimiliki oleh kebutuhan untuk menarik tingkah laku kearahnya. Individu akan merespon terhadap kebutuhan yang lebih kuat (potensial), dan berada dalam konflik apabila kebutuhan itu seimbang.
b.     Freedom of Movement ; yaitu individu mempunyai keyakinan bahwa tingkah laku tertentunya akan menghasilkan suatu yang diharapkan. Walaupun respon selalu tertuju pada stimulus tertentu, ia tetap dapat mengontrol dirinya sendiri. Artinya, individu akan bebas memilih respon atau sebaliknya bebas memilih stimulus mana yang akan direspon tanpa peduli sekecil apapun potensi kebutuhannya, sehingga sampai pada tujuan yang berharga bagi dirinya.
c.   Need Value ; yaitu nilai yang berkembang dalam diri individu mengenai kebutuhan. Derajat kebutuhan  dalam diri individu ini membuatnya lebih memilih kepuasan dibandingkan dengan yang lain. Karena pada situasi tertentu kebutuhan atau tujuan itu dinilai lebih berharga.
Ilustrasi mengenai ketiga kebutuhan yang dipelajari ini adalah ;
 
Interaksi Anak dan ibu :  berawal hanya pada pemenuhan kebutuhan akan rasa lapar (Need-1) : Generalisasi kebutuhan (keputusan) : Membutuhkan perhatian (Need Potensial) : Generalisasi kebutuhan (keputusan) : Mengerjakan sesuatu yang menyenangkan ibunya (Freedom of Movement) : Generalisasi kebutuhan : Bersikap manis (Need Value).
Pada akhirnya, kebutuhan fisiologis akan berubah menjadi kebutuhan sekunder
3.      Perkembangan Tingkah Laku yang Tidak Tepat
Sebagaimana tingkah laku tepat yang merupakan kebutuhan yang dipelajari secara tepat, tingkah laku yang  tidak tepatpun menurut aliran behavior juga merupakan sesuatu yang dipelajari, dan pernah manjadi jalan untuk memenuhi kebutuhannya (reinforcement yang diperoleh individu dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan). Persoalannya hanya terdapat pada perilaku tersebut tida dan atau kurang sesuai dengan tuntutan lingkungan yang menghendaki diri berlaku tepat. Meskipun demikian, individu tetap memperoleh kepuasan dari tingkah laku yang ditampilkan tersebut.
Contoh : Anak yang tidak mengerjakan PR matematika karena tidak menyenangi pelajaran tersebut.
Reinforcementnya : anak dikeluarkan dari pelajaran tersebut
Tuntutan lingkungan : Perilaku tersebut kurang baik
Bagi individu bersangkutan : Tercapai kebutuhannya.
Ilustrasi ini memberikan pengertian bahwa ukuran tingkah laku yang tidak tepat hanya terdapat jika tingkah laku tersebut berada pada derajat tingkah laku yang dapat mengecewakan individu atau lingkungannya. Karenanya, keberadaan budaya akan sangat menentukan sebagai refleksi pertimbangan kesesuaian. Ketepatan atau ketidaktepatan perilaku akan sangat bergantung pada determinasi pemenuhan kebutuhan yang disandarkan kepada kondisi lingkungan dan budaya. Karena itu pula, interaksi dengan kebudayaan akan berguna sebagai pembelajaran dan dalam merangking hierarki khasanah tingkah laku.
Intinya, pandangan behavioris tentang perilaku sesuai atau malasuai (tepat atau tidak tepat) berada pada satu titik keyakinan bahwa semua perilaku tersebut adalah sesuatu yang dipelajari melalui proses pembelajaran. Karena pada dasarnya tingkah laku manusia adalah usaha untuk memodifikasi situasi untuk mencapai kepuasan yang setinggi-tingginya. Adapun garis kepuasan berada pada pemenuhan kebutuhan yang tergenerasasi secara terus menerus (akhirnya membentuk diferensiasi kebutuhan) yang mendapat penguatan (reinforcement).
Pengalaman masa kecilpun akan sangat penting dalam perkembangan hierarki kebutuhan, meskipun hierarki itu terus menerus mendapat revisi sepanjang hidupnya. Interaksi terhadap lingkungan juga akan menempatkan hierarki kebutuhan itu ada yang diperkuat, dipelajari baru, dilemahkan, dan dihapus, hingga individu berada pada kemasakan dan mampu menempatkan self-reinforcement menjadi reinforcement yang paling kuat.
C.     PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM  KONSELING
1.      Konsep-Konsep Pokok dalam Konseling
Fokus pendekatan konseling behavioral adalah terletak pada konsep-konsep pokok tentang tingkah laku baru yang ingin dipelajari dari suatu kondisi yang malasuai. Pengubahan dilakukan dalam proses pembelajaran, teknik yang dirakit secara individual dan bernuansa ilmiah. Namun, sebelum sampai pada treatment konseling tersebut, pendekatan lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah sebagai berikut :
a.   Pemusatan konseling yang berpusat pada tingkah laku yang tampak dan khusus, yaitu proses konseling merupakan pendekatan induktif yang menerapkan metode eksperimen dalam proses terapeutik. Hal utama yang mesti dilakukan adalah menyaring dan memisahkan tingkah laku yang bermasalah itu dan membatasi secara khusus perubahan apa yang dikehendaki. Deskripsi umum yang samar-samar tentang tingkah laku tidak bermanfaat untuk dijadikan titik berangkat dari konseling dan tidak dapat dijadikan pembatas.
Untuk sampai pada tataran ini, fungsi dan peranan konselor dalam konseling adalah bersifat aktif dan direktif dalam treatment. Konselor juga berada pada posisi sebagai model (memberi penguatan verbal dan non verbal), guru, dan ahli diagnosa yang akan diamati langsung oleh klien. Krasmer (Corey, 2007 hal 202) menyatakan bahwa terapis/konselor dalam pendekatan ini merupakan “Mesin Perkuatan” yang kehadirannya memasok perkuatan yang akan digeneralisasikan klien disetiap kesempatan dalam situasi terapi. Perkuatan yang diberikan konselor sebagai model juga akan menjangkau situasi-situasi di luar proses konseling, dimana ganjaran, minat, keprihatinan akan diperlukan bagi klien yang belum mendapat perkuatan lain dari orang lain maupun dari lingkungannya.
b.  Tujuan terapeutik yang tepat, yaitu perumusan pernyataan yang khusus mengenai tujuan pribadi yang ingin dicapai. Tujuan ini mencakup aspek perilaku kongkrit dan spesifik yang bermasalah dan keterampilan baru yang ingin dipelajari, serta berorientasi kepada tingkah laku yang dapat diukur. Semakin spesifik tujuan yang ingin dicapai, maka semakin mudah proses konseling dilangsungkan (tujuan bermuara pada ciri-ciri terapi).
Tujuan konseling menduduki tempat yang sangat penting dan ditentukan oleh konselor dan klien sejak permulaan proses konseling. Tujuan umum adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi belajar (semua perilaku dipelajari), mambantu menolong diri sendiri (self-help), peningkatan keterampilan sosial, dan tujuan membantu klien dalam mengembangkan suatu sistem pengaturan diri (self-management), sehingga klien dapat mengontrol nasibnya (self-control) baik di dalam maupun diluar situasi konseling.
Krumboltz (Hansen, 1977) memberikan karakteristik tujuan konseling  yang patut diperhatikan konselor yaitu : (1) Tujuan harus diinginkan klien, (2) Konselor harus berkeinginan membantu klien, (3) Tujuan memungkinkan untuk dinilai pencapaiannya oleh klien, (4) Tujuan memperbaiki perilaku salah suai, belajar tentang proses pembuatan keputusan, dan pencegahan timbulnya masalah.
 Misalnya :
Mengurangi kecemasan : Belajar bertanya secara jelas
Menghilangkan fobi : Mampu mengatakan tidak tanpa perasaan bersalah
Mengurangi berat badan : Mengendalikan jadwal makan
c. Perumusan rancangan kegiatan dan metode-metode yang berorientasi tindakan, yaitu tujuan-tujuan khusus yang ingin diubah klien akan dijadikan bahan informasi untuk dalam merumuskan rancangan kegiatan bantuan (treatment). Bersama klien, konselor selanjutnya membuat rancangan tindakan (treatment) yang spesifik, nyata, dan terukur. Strategi yang dapat digunakan dapat berupa pemberian contoh, latihan, pekerjaan rumah, dan sebagainya.
Dalam khasanah pendekatan ini, klien dituntut untuk berpartisipasi dan aktif dalam usaha perumusan tindakan dan treatment. Motivasi untuk berubah, mau bekerja sama, dan kesediaan melakukan treatment, serta keberanian mengambil resiko adalah hal penting yang patut muncul  dalam pendekatan ini.
Marquis (Corey, 2007:205) menguraikan tiga fase yang dapat melibatkan partisipasi klien dalam perumusan tindakan yaitu (1) tingkah laku klien sekarang dianalisis dan pemahaman yang jelas menjangkau tingkah laku akhir, dengan partisipasi aktif klien dalam setiap bagian dari proses pemasangan tujuan,  (2) eksplorasi cara-cara alternatif yang bisa  diambil klien dalam upaya mencapai tujuan, (3) suatu program treatment direncanakan dari tahap yang paling sederhana sampai pada tahap akhir yang diinginkan terwujud.
Hal penting lain dalam upaya mengetengahkan partisipasi sekaligus menanamkan atmosfir kepercayaan klien adalah terletak pada hubungan personal konselor terhadap klien yang ditandai oleh sikap penerimaan, antusiastik, permisif, acceptance, empaty, dan keaslian yang dimunculkan konselor dalam hubungan konseling sejak mula sampai akhir konseling. Agaknya, seorang konselor hendaknya dapat memaksimalkan semua asas-asas dalam konseling.
d.  Penilaian yang objektif terhadap hasil dan balikan, yaitu hasil konseling handaknya dapat dinilai secara objektif, meliputi keberhasilan sasaran tingkah laku, ketepatan rumusan perlakuan, dan keefektifan prosedur yang digunakan, serta pemberian balikan kepada klien secara terus menerus juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini.
2.      Prinsip-Prinsip Belajar dalam Konseling
Prinsip belajar yang ingin dibangun dan dijadikan dasar pijakan dari keberlangsungan  konseling dikategorikan dalam tiga bentuk yaitu :
a.      Classical Conditioning (Pavlov dan Watson), yang memusatkan perhatiannya pada pengawal tingkah laku. Ia dapat dikatakan sebagai respondent conditioning, dan sebab pengawal (antecedent) merupakan stimulus. Pusat perhatian dari conditioning ini pada stimulus yang menimbulkan respon reflektif.
b.      Operant Conditioning (Skinner) yang memusatkan perhatiannya pada akibat dari tingkah laku. Kejadian yang mengawali dipandang sebagai cues, yang memberikan informasi prediktif tentang datangnya akibat (concequences). Perubahan tingkah laku merupakan hasil alternasi concequences, dan tingkah laku yang paling berarti adalah tingkah laku yang dikontrol oleh akibat-akibat.
c.  Sosial Learning (Mischel, Bandura), yang disebut juga sebagai belajar observasional, modeling, atau imitative. Konsep ini merupakan pandangan integratif dan menganggap lingkungan internal dan eksternal saling  mempengaruhi. Kejadian-kejadian belajar muncul sebagai hasil interaksi  ketergantungan kedua lingkungan tersebut. Menurut Mischel, tingkah laku dipengaruhi oleh lima variabel yaitu kompetensi, strategi dan susunan pribadi, harapan-harapan hasil, nilai stimulus, dan sistem dan rencana pengaturan diri.
Berdasarkan ketiga komponen di atas, lahir pula konsep tentang komponen-komponen belajar yang merupakan dasar untuk memahami bagaimana klien belajar bertingkah laku, sekaligus mempersembahkan strategi-strategi teknik (pendekatan) untuk membantu klien belajar tingkah laku baru. Komponen yang dimaksud adalah :
1)    Reinforcement, yaitu pemberian penguatan yang menunjukkan proses belajar dimana akibat yang menyertai tingkah laku menjadi meningkat.
2)    Punishment, yaitu penampakan akibat yang dipandang sebagai penghapusan kejadian dan dirasakan memuaskan. Hasil ini bertolak belakang dengan reinforcement.
3)  Extinction, yaitu berakhirnya pengaruh reinforcement bagi sebuah penampilan respon. Ia merupakan prosedur yang didalamnya concequnce tidak tersedia untuk mengikuti respon.
4)  Generalization, yakni pemakaian respon yang dipelajari dalam kaitannya dengan situasi stimulus, untuk merespon stimulus lain. Semakin mirip kedua stimulus, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya pengulangan respon. Generalisasi pada event positif akan menguntungkan, begitupun sebaliknya.
5)      Discrimination, yaitu kemampuan individu membedakan dua stimulus yang mirip. Ia dikembangkan melalui proses membedakan reinforcement secara cermat, dan sangat tergantung pada seberapa penting situasi itu harus dibedakan individu (kebalikan dari generalization).
6)    Shaping, yaitu pergerakan tingkah laku yang sederhana menuju ketingkah laku yang kompleks. Proses shaping hendaknya diawali oleh pembelajaran terhadap komponen sebagaimana tersebut di atas.
7)  Vicarious Process, yakni pengamatan terhadap aspek-aspek belajar yang dicermati.
D.    MEKANISME KONSELING
1.      Tahap-Tahap Konseling
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kondisi pengubahan dari pelaksanaan konseling behavioral adalah berorientasi pada pemusatan tingkah laku, tujuan terapuetik, perumusan rancangan dan penetapan metode, serta penilaian. Atas konsepsi ini, maka tahap-tahap yang dapat dilangsungkan konselor dalam pelaksanaan konseling adalah sebagai berikut :
a. Assasement ; yaitu tahap untuk mendapatkan informasi yang akan menggambarkan masalah yang dihadapi, sekaligus akan menjadi pedoman dalam menyusun strategi pemberian bantuan. Informasi-informasi yang dimaksud dapat berupa aktifitas nyata, perasaan, nilai-nilai, dan pikiran klien. Kanfer dan Saslow memberikan gambaran tentang kelayakan informasi yang semestinya dapat digali pada tahap ini adalah berkenaan dengan :
-    Analisis tingkah laku khusus yang bermasalah
-    Analisis situasi yang didalamnya masalah klien terjadi
-    Analisis motivasional yang berkenaan dengan hal-hal yang menarik dalam kehidupan klien
-    Analisis self-control berkenaan dengan tingkatan kontrol diri klien terhadap tingkah laku bermasalah
-    Analisis hubungan sosial berkenaan dengan orang-orang lain yang terkait dekat dengan klien
-    Analisis lingkungan fisik-sosial-budaya berkenaan dengan norma-norma dan keterbatasan-keterbatasan lingkungan.
b. Goal Setting ; yaitu penyusunan tujuan konseling berdasarkan informasi-informasi sebagaimana tersebut diatas. Penyusunan ini dapat dilakukan melalui tiga tahap (Burk dan Engelkes) yaitu :
-    Membantu klien untuk memandang masalahnya atas dasar tujuan-tujuan yang diinginkan.
-Memperhatikan tujuan klien berdasarkan kemungkinan hambatan-hambatan situasional tujuan belajar yang dapat diterima dan diukur
-    Memecahkan tujuan kedalam sub-tujuan dan menyusun tujuan menjadi tujuan menjadi tujuan yang berurutan
c.    Techniques Implementation ; yaitu penentuan strategi belajar yang terbaik untuk membantu klien mencapai tujuan perubahan tingkah laku yang diinginkannya. Muara konseling adalah membantu klien dalam mempelajari strategi-strategi efektif yang akan digunakannya dalam upaya perubahan tingkah laku.
d.      Evaluation-Termination ; yaitu evaluasi terhadap tingkah laku klien, efektifitas konselor, efektifitas teknik, dan keberhasilan konseling, serta balikan yang dapat dilaksanakan.
 2.      Teknik-Teknik Konseling
Teknik-teknik dalam melangsungkan konseling dengan pendekatan konseling behavioral tidak hanya tertuju pada hukum-hukum belajar, akan tetapi dapat diterapkan dengan pemaduan pendekatan lain yang muaranya sama pada batasan perubahan tingkah laku nyata, baik dalam menampilkan tingkah laku baru maupun menghilangkan tingkah laku yang tidak diinginkan. Adapun teknik konseling behavioral dikelompokkan dalam tiga bagian yaitu :
a.      Teknik Memperkuat Tingkah Laku
1) Shaping, adalah mengganjarkan tingkah laku dengan terus menerus melakukan aproksimasi dan membuat rantai hubungan. Tingkah laku yang tidak pernah dimunculkan tidak dapat direinfors. Shaping dilakukan melalui sejumlah pendekatan yang berangsur, dan dalam prosesnya akan terdapat tingkah laku yang direinfors dan ada yang tidak. Pada setiap tahap, konselor diharapkan dapat memberikan reinfors sampai pada tahap perilaku yang diinginkan itu muncul.
 Contoh : lelaki yang takut berhubungan dengan wanita :
Proses shaping : Menatap-tersenyum-menyapa-menciptakan percakapan-berkenalan-mengajak makan malam-pacaran.
2) Behavior Contract, yaitu kontrak tingkah laku yang syarat mutlaknya terdapat pada batasan yang cermat mengenai problem klien, situasi dimana hal itu diekspresikan, dan kesediaan klien dalam prosedur. Konselor hendaknya merincikan tugas yang mesti dilakukan klien dan kriteria sukses yang direinforcement. Caranya adalah dengan (a) menyatakan kontrak dalam kalimat positif, (b) mengatur tugas dan kriteria yang mungkin dicapai, (c) memberi penguatan secepat mungkin, (d) mendorong individu untuk mengembangkan self-reinforcing, dan (e) menggunakan kontrak bertingkat yang  mengacu pada tugas, kemudian diikuti hadiah yang menimbulkan kontrak baru, dan seterusnya.
3)   Assertive Training, yaitu latihan ketegasan, dengan menggunakan teknik latihan permainan peran. Proses shaping terjadi apabila tingkah laku baru mendekati tingkah laku yang diinginkan. Latihan ini dapat diberikan kepada klien dengan kriterium masalah (Corey, 2007) sebagai berikut antara lain :
-    Orang yang tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelannya
-    Orang yang memiliki kesopanan yang berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan daripadanya
-    Orang yang berkesulitan mengatakan “tidak”
-    Orang yang berkesulitan menyatakan kecintaan dan respon-respon positif lainnya
-    Orang yang merasa tidak mempunyai hak untuk menyatakan perasaan dan pikirannya
 b.      Modelling
Penggunaan model dalam konseling ini bertujuan untuk mempelajari tingkah laku baru dengan mengamati model dan mempelajari keterampilannya. Teknik ini juga diperuntukkan bagi klien yang telah memiliki  pengetahuan tentang penampilan tingkah laku tetapi belum dapat menampilkannya. Proses terapeutik dalam bentuk Modelling ini akan membantu/mempengaruhi tingkah laku yang lemah atau memperkuat tingkah laku yang siap dipelajari dan memperlancar respon. Teknik konseling Modelling ini dapat berupa :
1)      Proses Mediasi, yaitu proses terapeutik yang memungkinkan penyimpanan dan recall asosiasi antara stimulus dan respon dalam ingatan. Dalam prosesnya,  mediasi melibatkan empat aspek yaitu atensi, retensi, reproduksi motorik, dan insentif. Atensi pada respon model akan diretensi dalam bentuk simbolik dan diterjemahkan kembali dalam bentuk tingkah laku (reproduksi motorik) yang insentif.
2)      Live Model dan Symbolic Model, yaitu model hidup yang diperoleh klien dari konselor atau orang lain dalam bentuk tingkah laku yang sesuai, pengaruh sikap, dan nilai-nilai keahlian kemasyarakatan. Keberadaan konselor pun dalam keseluruhan proses konseling akan membawa pengaruh langsung (live model) baik dalam sikap yang hangat maupun dalam sikap yang dingin. Sedangkan symbolic model dapat ditunjukkan melalui film, video, dan media rekaman lainnya.
3)      Behavior Rehearsal, yaitu latihan tingkah laku dalam bentuk gladi dengan cara melakukan atau menampilkan perilaku yang mirip dengan keadaan sebenarnya. Bagi klien teknik ini sekaligus dapat dijadikan refleksi, koreksi, dan balikan  yang ia peroleh dari konselor dalam upaya mengetahui apa yang seharusnya ia lakukan dan ia katakana.
4)  Cognitive Restructuring, yaitu proses menemukan dan menilai kognisi seseorang, memahami dampak negatif pemikiran tertentu terhadap tingkah laku, dan belajar mengganti kognisi tersebut dengan pemikiran yang lebih realistic dan lebih cocok. Teknik ini dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang korektif, belajar mengendalikan pemikiran sendiri, menghilangkan keyakinan irrasional, dan menandai kembali diri sendiri.
5) Covert Reinforcement, yaitu teknik yang memakai imajinasi untuk menghadiahi diri sendiri. Teknik ini dapat dilangsungkan dengan meminta klien untuk memasangkan antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan sesuatu yang sangat negatif, dan memasangkan imaji sesuatu yang dikehendaki dengan imaji sesuatu yang ekstrim positif.
 c.       Teknik Melemahkan Tingkah Laku
1)      Extinction, yaitu proses mengurangi frekuensi terjadinya suatu tingkah laku dengan menghilangkan reinforcementnya.
2)      Reinforcing Incompatible Behavior, yaitu proses memperkuat tingkah laku positif dengan memberikan reinforcers pada respon yang diinginkan dan mengurangi tingkah laku yang negatif dengan cara mengabaikannya.
3) Relaxation Training, yaitu teknik rileksasi untuk menanggulangi tekanan-tekanan (stress) yang ditimbulkan oleh keadaan hidup sehari-hari. Teknik ini diberikan kepada klien agar memperoleh pengenduran otot-otot dan mental yang terganggu tersebut.
4)      Systematic Desensitization,  yaitu prosedur terapeutik yang dipakai dalam berbagai keadaan yang berhubungan dengan kecemasan, ketakutan, dan reaksi phobia. Dalam teknik ini, klien dilatih untuk rileks selama kurang lebih 30 menit, dan kemudian klien menyusun situasi stimulus yang didalamnya mereka mengalami cemas. Sedangkan konselor membantu mengidentifikasi dan menyusun situasi dari pengalaman yang tingkat kecemasannya rendah sampai yang tertinggi.
Setelah klien benar-benar rileks, konselor dapat memulai teknik terapeutik dengan cara meminta klien memejamkanmatanya dan konselor mulai menggambarkan seri-seri adegan dan meminta klien untuk membayangkan dirinya dalam setiap adegan tersebut. Konselor bergerak secara progresif ke hierarki sampai klien memberikan tanda mengalami kegelisahan. Adegan dihentikan apabila klien mampu tetap rilek dalam reinforcement yang sebelumnya dianggap menggelisahkan.
5)      Satiation, yaitu proses memberikan reinforcement yang berlebihan sehingga reinforcement kehilangan nilainya sebagai penguat. Satiation dapat dilakukan dengan membanjiri klien dengan stimulus yang sama hingga stimulus tidak lagi direspon.
 Sumber Bacaan :
Bernard.P, 1990 : Empat Teori Kepribadian. Restu Agung. Jakarta
Corey (alih bahasa : Koeswara), 2007 : Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Refika Aditama. Bandung.
Hansen, J.C. 1977 : Counseling Theory and Proces. Allyn and Bacon, Inc. Boston.
Modul, 1994 : Pendekatan-Pendekatan Modern dalam Konseling. IKIP Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar